Kamis, 31 Desember 2015

HAY FEVER

Apa itu hay fever?


Hay fever adalah gangguan sistem kekebalan tubuh yang ditandai dengan respon alergik terhadap serbuk bunga atau lainnya. Dikenal juga sebagai rinitis alergi, ada dua tipe: musiman, yang terjadi hanya saat musim tertentu di mana tanaman tertentu menyerbuk, dan perenial, di mana terjadi sepanjang tahun. Orang dengan hay fever sepanjang tahun (perennial) biasanya alergi terhadap satu atau lebih alergen di dalam rumah. Ini termasuk kutu debu rumah, atau bulu-bulu, semua mungkin ditemukan di bantal, seprai, karpet, atau gorden. Alergen umum yang lain adalah jamur, biasanya ditemukan di tempat yang lembab seperti kamar mandi dan ruang bawah tanah (basement) (Charles dkk, 2001).


Bagaimana bisa terjadi?
Jika seseorang menderita hay fever (rinitis alergi), itu akibat sistem kekebalan tubuh menganggap serbuk sari atau debu yang sesungguhnya tidak berbahaya sebagai zat berbahaya menyerang tubuh kita. Sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan, kemudian menghasilkan substansi kimia seperti histamin dan lekotrin ke dalam aliran darah, yang mengakibatkan peradangan di saluran hidung, sinus dan kelopak mata, juga bersin-bersin. Semua gejala tersebut dimaksudkan untuk melindungi tubuh kita baik dengan mengeluarkan alergen (misalnya, bersin), atau menjadikan bengkak bagian tubuh, seperti saluran hidung, sehingga alergen tidak dapat masuk. Pembengkakan membran hidung dapat menutup drainase sinus dan menyebabkan sinusitis. Rinitis dapat juga berhubungan dengan polip hidung, suatu tumor kecil yang non-kanker. Mimisan juga sering terjadi saat serangan hay fever.
Hay fever hampir selalu diturunkan secara genetik. Mayoritas pasien dengan hay fever memiliki orang tua atau saudara kandung yang juga memilki alergi. Orang dengan asma atau eksim (dermatitis alergi atau gatal-gatal akibat alergi zat atau makanan tertentu) mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hay fever. Sekitar sepertiga dari mereka yang memiliki rinitis alergi setidaknya juga mengalami asma ringan, intermiten (hilang timbul) yang berhubungan dengan alergi. (Edward and Rakel, 2005).



Bagaimana pengobatannya?
Cara terbaik adalah dengan menghindari alergen yang telah diketahui dan zat lain yang dapat merangsang (seperti asap dan debu). Kasus ringan biasanya dapat dikontrol dengan obat-obatan over-the-counter, antihistamin non-sedatif (tidak menyebabkan kantuk, nama generik loratadin), satu kali sehari saat musim alergi. Antihistamin lebih efektif jika diminum tiap hari saat musim alergi daripada diminum setelah muncul gejala-gejala alergi. Begitu histamin dikeluarkan ke dalam darah kita, antihistamin tidak dapat menghilangkan gejala-gejala yang telah muncul. Ia hanya dapat mencegah pelepasan histamin berikutnya.
Fenilefrin dan pseudoefedrin adalah dekongestan yang membantu melegakan jalan napas. Jika seseorang mengkonsumsi obat-obatan jantung atau antibiotik eritromisin atau antijamur ketokonazol, konsultasikan dengan dokter jika ingin mengkonsumsi obat-obatan dekongestan dan antihistamin untuk mencegah interaksi obat. Beberapa obat semprot hidung dapat mengandung dekongestan dan antihistamin. Obat semprot hidung ini membantu mengurangi nyeri dan gatal dengan cara mengurangi pembengkakan dan peradangan saluran napas. Obat semprot hidung ini sebaiknya tidak digunakan selama tiga hari berturut-turut karena dapat memberikan efek balik (rebound) dan memperparah sumbatan hidung (Depkes RI, 2008)



Bagaimana pencegahannya?
Walaupun kecenderungan untuk mendapatkan hay fever ada di dalam gen setiap orang, gejala-gejala alergi yang ada dapat dicegah dengan mencoba beberapa langkah pencegahan dan waspada terhadap beberapa tanda alergi sebelum terjadi. Konsultasikan dengan dokter ahli alergi untuk saran-saran khusus yang dapat membantu anda. Juga perkuat pertahanan tubuh dengan hidup sehat termasuk pola makan sehat dan olahraga teratur. Kurangi polutan dan racun-racun dari sekitar sebisa mungkin dengan menjaga kebersihan dalam rumah dan halaman. Sebisa mungkin tidak dilakukan sendiri jika anda mengidap alergi. Cara terbaik untuk menghindari gejala alergi adalah dengan menjauhi asap dan debu, juga alergen lain – sesuatu yang seringkali tak mudah dilakukan.








DAFTAR PUSTAKA
Charles; Paul Travers; Mark Walport; Mark Shlomchik, 2001, Immunobiology Fifth Edition. Garland       Scienc, New York & London
Departemen Kesehatan RI, 2008, IONI, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Dorland, 2002, Buku Saku Kedokteran, EGC, Jakarta
Edward T and Rakel, Robert E, 2005, Conn's Current Therapy 2005, W.B. Saunders Compan, Philadelphia

3 komentar:

  1. pengetahuan yang sangat membantu untuk orang yang tidak tahu... good job

    BalasHapus
  2. Waahh, trnyata serbuk bunga juga bisa menyebabkan alergi juga ya..info baru lagi, trimakasih

    BalasHapus